Tiga Venus dan Tentang Seni Yang Enggan Selesai

Content: 78 pages
ISBN: 978-602-52504-7-7
Publisher: Nyala
Year: 2019
Excerpt
Saya dan Tiga Venus bukan masa lalu maupun masa depan. Ia juga bukan nostalgia, bukan ingatan, dan bukan kisah atas yang lampau. Ia adalah masa kini. Bagi saya, painting harus “maju,” tidak sekadar takjub pada narasi di baliknya. Sebab, jika itu terjadi, Saya dan Tiga Venus selesai. Ia berhenti pada catatan sejarah ‘masa lalu,’ terjebak representasi. Karena itu, kalau pun ia tak semegah “Lima Jurus Gebrakan” Gerakan Seni Rupa Baru, ia juga tidak bicara hal-hal besar seperti tumbangnya Orde Baru, namun dalam diamnya, ia seperti sedang “meneror” kita, terutama pada seniman. Ia – selain “Menjadi-Sudjojono-nafiri-yang-sepi” – juga tengah “Menjadi kita.”
Reviews
“Saya kira ini salah satu buku terbaik tahun ini tentang seni rupa.”
-- Ugo Untoro, Seniman
“Biasanya kritik seni rupa terpukau pada makna. Hal hal mendasar dalamnya seperti; garis, warna atau blabar dilupakan. Seolah narasi, muatan dan konteks tak terhubung dengan dengan aspek formal dalam perupaan. Bahwa pilihan warna, sapuan yang lemah atau kuat adalah juga cara seniman untuk membentuk, memperkuat narasi tidak pernah dianggap penting. Mabuk dalam kecamuk narasi besar, demikian kurang lebih tulisan seni rupa hari ini. Kecuali buku ini, lain dari yang lain. Ia mengembalikan tulisan seni rupa pada jalurnya.
Stanislaus Yangni, sang roro mendut seni rupa indonesia. Penulis senirupa pantaslah berkaca dan membaca buku ini. Kalau senimannya..sak karepmu lah.”
Stanislaus Yangni, sang roro mendut seni rupa indonesia. Penulis senirupa pantaslah berkaca dan membaca buku ini. Kalau senimannya..sak karepmu lah.”
-- Agung Kurniawan, Seniman & Aktivis
