Waria, Bahasa & Dunia Malam

Excerpt
Retorika para waria di pangkalan, melalui permainan peran gender dan bahasanya itu, telah membuktikan bahwa sudah terjadi peledakan batas-batas kelamin. Peledakan ini seakan meleburkan wilayah simbolik (bahasa) dengan wilayah imajiner (mimpi dan fantasi waria). Waria tidak mungkin menjadi perempuan atau menjadi laki-laki ‘tulen’ yang diharapkan masyarakat. Mereka juga tidak mungkin menikah (di Indonesia). Mereka hanya mungkin melakukan simulasi atas “cita-citanya” itu. Dan disinilah peran pangkalan: Ia menjadi semacam dunia baru, dunia fantasi bagi waria sebagai sosok yang tak memiliki legitimasi atas kisah perkelaminannya di negeri ini.
Rabu Wage. Pangkalan cukup ramai karena ada dua bus pariwisata parkir di sana. Tari sedang menunggu lekongannya yang sudah janjian jam satu malam. Vina, Rina dan Winda sedang minang di warung depan. Anggur putih alias AP. Tari sempat ditawari tapi ia menolak karena sedang tidak mood untung minang. Tari berdiri gelisah di dekat pagar besi sebelah luar rel kereta api bersama Cindy. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Ia sedang mondar-mandir gelisah ketika tiba-tiba Miko datang dan nyeletuk spontan, “Gila belendong, kentongnya segindang … maunya nempong lagi …” Miko menunjukkan lengan tangan kanannya, menggambarkan ukuran kentongnya si belendong. Cindy menanggapi, “Lu ga takut? Ih kalau aku tinta ah, tekong aida sama belendong.”
