Loh Tunduh, 2018
Lampu redupnya mengingatkan dia pada
senja selepas hujan
Pada merah yang katanya tempat para
setan berkelana
Dan kau selalu inginkan senja yang sama.

Pada kain separuh lapuk tempatnya bersembunyi
Tak ada adzan
Tak ada igauan tentang subuh
Hanya ia, dan nafas yang disangkanya abadi.

From The Cruelty of Sense
Cruelty of Sense is a poetry book, not yet published.

Tidak ada gigil di tengah dingin
hampir pagi
kenapa selalu ada resah di yang hampir

dan kaukatakan aku begitu lirih
menanti embun yang tetesnya menuruni
lengan pada patung pieta
yang menyangga tubuhnya sekarat.

From The Cruelty of Sense
Cruelty of Sense is a poetry book, not yet published.

Dan di telapak tangan yang sama hanya
ada rekaman
Tubuhmu berbaring seperti tanpa cerita
Aku ingin sembunyi
Durga punya rencana yang hanya
ingin ia reka dengan ayahnya.
From The Cruelty of Sense
Cruelty of Sense is a poetry book, not yet published.
